*Bagi nyonya Sastra rapat Fujinkai itu suatu kejadian yang penting dalam kehidupannya sehari-hari.
*Bersemangat betul ia, kata seorang anggota kepada temannya.
*Nyonya Sastra berdiri, berbicara, membuka rapat.
*Dengan suara seperti ngeong kucing kedinginan, nyonya Sastra menguraikan, bahwa ia dapat perintah dari atas untuk mengadakan rapat ini, untuk membicarakan beberapa soal.
*Seorang anggota, duduknya berhadap-hadapan dengan nyonya Sastra, menggumam beberapa perkataan, "Ya, kalau tak diperintahkan masa berani."
*Sedang berbicara, nyonya Sastra melihat kepada anggota ini.
*Muka nyonya Sastra masam dan muka anggota itu mengejek.
*Agak gementar nyonya Sastra melanjutkan pembicaraannya.
*Lama sekali ia berbicara, yang diperintahkan orang di atas itu belum juga ke luar.
*Semua anggota kuap, sepcrti serdadu di medan perang yang sepi.
*Sepuluh menit...dua puluh menit, nyonya Sastra masih berbicara.
*Mulutnya yang seperti muncung tupai itu kembang kuncup seperti lubang puputan.
*Lubang hidungnya terbuka sebesar-besarnya, seperti jala dalam air.
*Tampak bulu-bulu hitam-hitam seperti ikan cumi-cumi.
*Sebang bicara keluar air ludahnya antara giginya, meleleh di atas dagunya, seperti ingus anak kecil.
*Seorang anggota berdiri dan kemalu-maluan katanya, "Nyonya Sastra, saya permisi saja pulang.
*Banyak pekerjaan di rumah."
*Nyonya Sastra berasa tersingguung dan dengan suara marah tanyanya, “Mengapa nyonya Waluyo? Rapat belum habis lagi.
*Baru saja dimulai.
*Di rumah nyonya bekerja untuk diri nyonya sendiri.
*Sebang di sini kita bekerja untuk kepentingan bersama.”
*Nyonya Waluyo sseperti orang berpikir dan katanya dengan tegas, “Sayang sekali nyonya Sastra.”
*Nyonya Waluyo melihat ke arloji tangannya, kecil seperti kumbang dan dilanjutkannya pembicaraannya, “Saya pukul enam tepat berjanji dengan tukang ayam.
*Ditukar dengan baju rombeng-rombeng.”
*Nyonya Waluyo mengangguk kepada nyonya Sastra dan kepada semua anggota, lalu keluar.
*Tiba di luar katanya antara giginya, “Buat pertama dan penghabisan kalinya.”
*Dan seperti orang mengejek katanya, “Hm...kepentingan bersama.”
*Anggota-anggota yang lain gelisah tampaknya seprti orang bertemu muka dengan jandanya.
*Nyonya Sastra terus juga bicara.
*Segala isi surat kabar pada hari yang akhir-akhir ini keluar.
*Terima kashi kepada Angkatan Laut Nippon yang telah mendapat kemenangan gilang gemilang di Laut sebelah Timur Taiwan, penghormatan kepada prajurit-prajurit Nippon yang telah pecah ssebagai ratna di pulau Pililiou, terima kasih kepada Dai Nippon Teikoku atas kemerdekaan Indonesia di kelak kemudian hari, lagi terima kasih atas pembagian beras yang sudah diatur rapi oleh pemerintah bala tentara, yaitu setiap orang mendapat seperlima liter sehari.